Love to live, and live to love

When it can be simple, keep it simple. When it can’t, make it simple!

Indonesia Ganti Nama???

Posted by ardnahc pada 21 November, 2007

Sering Sakit Indonesia Diusulkan Ganti Nama: Hindunesia

05/08/2007 12:56:24 WIB
JAKARTA, Investor Daily

Saat dilahirkan 6 Juni 1901, Presiden RI pertama Ir Soekarno bernama Kusno Sosrodihardjo. Karena sering sakit-sakitan, orang tuanya mengganti nama Kusno menjadi Soekarno. Unik, sejak menyandang nama Soekarno, proklamator itu sukses menjalani masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa tanpa sergapan penyakit.

Penggantian nama Bung karno itu memang sudah menjadi tradisi hampir semua suku yang ada di Indonesia. Mungkin, karena tradisi ini pula yang mengilhami Chandra Adiwana menulis buku berjudul ” Selamat Tinggal Indonesia”.

Dalam bukunya, Chandra mengusulkan nama negara Indonesia diganti, karena sering ‘sakit-sakitan’ , tak putus-putusnya dihajar petaka, dan rakyatnya jauh dari sejahtera.

“Ada banyak negara yang membuktikan, mengganti nama bisa sejahtera,’ kata Chandra Adiwana, koordinator penulis, dalam peluncuran buku, di Jakarta, Jumat (3/8).

Negara yang dimaksud adalah Malaysia, Brunei Darussalam, serta Singapura. Sebelum berganti nama, Malaysia terkenal dengan sebutan Malaka. Sedangkan Brunei Darussalam sebelumnya hanya bernama Brunei. Sementara Singapura, dulunya bernama Tumasik.

“Negara yang mengganti nama, ternyata, lebih mudah mencapai tujuan pembangunan, ” tegas Chandra.  Bersama tim penulis, Chandra mengusulkan beberapa  nama baru. Di antaranya, Indonesiaraya (tanpa spasi), Indonesia Raya (dengan spasi), serta Nusantara atau Dwipantara.
Menyatukan dua suku kata (Indonesia dan Raya), kata Chandra, merupakan simbol penyatuan ribuan pulau dalam wilayah Indonesia. Sedangkan usulan nama Indonesia Raya (dengan spasi) terilhami oleh judul Lagu Kebangsaan yang diciptakan WR Supratman. Sementara nama Nusantara atau Dwipantara merupakan nama wilayah yang pernah diungkapkan sebagai nama menyeluruh yang diberikan Maha Patih Kerajaan Majapahit.

Beberapa pembahas buku, di antaranya Ketua Partai Hanura Indro Cahyono dan pengamat politik Daniel Sparingga, mempersoalkan kata nesia dalam kata Indonesia. Mereka mengaitkan kata itu dengan istilah kedokteran amnesia yang mengacu kepada penyakit lupa. “Sekarang kita telah menjadi bangsa yang mudah lupa,” ujar Indro.
Indonesia, kata Daniel, sedang dihinggapi beberapa gejala penyakit lupa. Beberapa gejala di antaranya lupa Bhineka Tunggal Ika, lupa hidup sederhana, lupa kesalahan sendiri, dan lupa saudara.  Oleh Chandra dan kawan-kawan, gejala-gejala tersebut dibahas panjang lebar. Gejala lupa bhineka tunggal ika terlihat pada beberapa kerusuhan besar. Pada 1995,misalnya, mencuat kerusuhan Dili, Timtim. Setahun kemudian muncul kerusuhan Situbondo, perseteruan etnis di Dayak, Sampit, Kupang, dan sejumlah daerah lainnya. “Kerusuhan itu menunjukkan Indonesia sudah lupa dengan bhineka tunggal ika,” ujar Chandra.
Penyakit lupa yang lain adalah lupa saudara. Pembahas dan penulis buku mengaitkan gejala itu dengan beberapa aksi terorisme yang juga mengorbankan masyarakat lokal. Tragedi bom Bali, misalnya, ternyata juga menelan korban dari warga Bali, selain turis asing.

Masih banyak penyakit lupa yang lain. Salah satu yang paling banyak disorot adalah penyakit lupa hidup sederhana. Penyakit ini, menurut para pembahas, terpicu oleh biasnya makna kesejahteraan di kalangan masyarakat Indonesia. Kesejahteraan, menurut Chandra, telah dijadikan target yang harus diraih dengan cara apapun, termasuk korupsi.

Tradisi

Dalam pandangan Chandra dan para pembahas, korupsi—sebagai bagian dari penyakit lupa hidup sederhana— terlah menjelma menjadi alat menuju sejahtera. Bukan hanya masyarakat kecil, korupsi juga melibatkan konglomerat dan masyarakat berpenghasilan tinggi.

Buku ini juga mengupas kesamaan nama Indonesia dengan nama negara lain, salah satunya Argentina. Nama Indonesia dan Argentina memiliki jumlah huruf yang sama, yakni sembilan huruf. Kedua, nama Indonesia dan Argentina sama-sama mempunyai huruf tengah ‘N’. Ketiga, masing-masing nama memiliki huruf ganda, yakni A dan N untuk Indonesia, serta I dan N pada Argentina.

Ternyata, kata Chandra, masing-masing kesamaan itu juga menyamakan nasib kedua negara. ” Kondisi yang tergambar pada negara Indonesia hampir sama terjadi dengan negara Argentina,” ujar Chandra.

Indonesia, dulu (di masa kerajaan) termasuk negara kaya raya. Pun demikian Argentina yang pernah menjadi salah satu negara terkaya di dunia. “Tapi, sama halnya dengan Indonesia, Argentiana sekarang justru menjadi negara yang terjebak utang,” tegas Chandra.

Oleh karenanya, Indonesia harus berbeda dari Argentina. Cara paling mendesak adalah mengganti nama. Toh, negara-negara lain sudah membuktikan, mengganti nama menjadi bagian integral meraih perubahan. Apalagi, sebagian masyarakat di Indonesia memercayai tradisi mengganti nama sebagai cara merubah nasib. Di Jawa, misalnya, jika seorang anak sering sakit-sakitan, orang tua langsung mengganti nama. Percaya atau tidak, banyak orang tua membuktikan, setelah berganti nama anaknya jarang sakit.

3 Tanggapan to “Indonesia Ganti Nama???”

  1. khoir said

    setuju bung gue setuju 100%dah gue dukung indonesia ganti nama

  2. ko_zak said

    Tetangga2 ane waktu kecil banyak yg ganti nama, gara2 sering sakit. dah ganti nama pada sehat2 dah… aneh juga.
    Percaya gak percaya???
    Ane percaya seh,… hehe..
    Ganti nama Indonesia jadi Endonesia…

  3. ardnahc said

    kl g ganti nama, jadi sapa ya? Kevin, terlalu keren. Arnold, lebih keren.hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: