Love to live, and live to love

When it can be simple, keep it simple. When it can’t, make it simple!

Pembajak Juga Bisa Jadi Kawan?

Posted by ardnahc pada 8 Agustus, 2006

Penulis: It Pin – detikInet

Jakarta, Pembajakan adalah musuh Microsoft? Betul tidak?

Perusahaan ini mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk memerangi pembajakan perangkat lunaknya. Maka, tentu saja pembajakan adalah musuh Microsoft. Betul tidak?

Demikian juga untuk industri rekaman. Pembajakan lagu-lagu lewat P2P file sharing adalah musuh nomor satu industri tersebut. Betul tidak?

Mereka (para dedengkot industri rekaman, terutama di US) juga mengeluarkan biaya pengacara yang tidak sedikit untuk menuntut para pemakai P2P file sharing yang ketahuan melakukan pertukaran file-file MP3 ilegal. Maka, tentu saja pembajakan adalah musuh mereka. Betul tidak?

Sebelum Anda terburu-buru menjawab, mari kita lihat apa pendapat beberapa orang ahli (ehm… btw, mereka tentu saja bisa salah).

Dalam salah satu artikel di HBS Working Knowledge, Pankaj Ghemawat dan Ramon Casadesus-Masanell melakukan analisa terhadap dinamika persaingan antara Microsoft dan Linux. Analisa tersebut dilakukan dengan merancang sebuah model ekonomi yang merepresentasi parameter-parameter penting dalam konteks persaingan kedua sistem operasi tersebut. Pertanyaan yang ingin mereka jawab adalah: Apakah Linux bisa menggeser Microsoft karena menawarkan OS gratis?

Kesimpulan mereka?

Linux tidak bisa mengalahkan Microsoft. Salah satu alasannya adalah karena Microsoft telah menciptakan network effect lewat penggunanya yang luar biasa banyak. Para pengguna yang ingin berpindah ke Linux harus menghadapi resiko menghasilkan format file atau data yang tidak bisa dibaca oleh pengguna lain yang memakai Microsoft; dan dalam dunia bisnis, hal semacam itu bisa menyebabkan kerugian yang tidak sedikit (bayangkan kerepotan yang ditimbulkan oleh kontrak-kontrak yang ditulis dengan format yang berbeda).

Dan apa yang membantu Microsoft dalam membangun network effect tersebut sementara produknya tidak diberikan dengan gratis? Ternyata jawabannya tak lain tak bukan adalah pembajakan software!

Ya, pembajakan software ternyata adalah salah satu kunci Microsoft dalam menghadapi Linux. Lewat pembajakan software, jutaan pengguna bisa menggunakan versi gratis Microsoft (terutama di negara-negara berkembang dan para pelajar). Dengan biaya yang sama-sama nol, pengguna lebih tertarik menggunakan produk-produk Microsoft dibanding Linux atau software-software lain dengan lisensi open source. Banyaknya pengguna produk Microsoft adalah alasan utama pemilihan mereka. Dengan bertambahnya pengguna produk Microsoft, para pembeli software asli juga lebih menyukai produk Microsoft karena ingin menghindari resiko kegagalan transfter data dengan pihak lain.

Dan bagaimana dengan pembajakan lagu-lagu digital?

Tunay Tunca, asisten profesor dari Stanford Graduate School of Business, melakukan riset di bidang ini. Dari hasil riset tersebut, dia berkesimpulan sebenarnya pembajakan lagu-lagu lewat P2P bisa dimanfaatkan secara strategis oleh industri rekaman untuk meredam pembajakan komersial.

Argumennya adalah: Orang-orang yang memakai P2P harus memiliki ketrampilan teknis tertentu untuk melakukan download lewat Internet. Dengan mencecar para pengguna tersebut lewat jalur hukum, industri rekaman malah membuat mereka memikirkan cara lain untuk mendapatkan lagu secara ilegal. Dari sana, muncullah industri pembajakan komersial dengan menyalin lagu-lagu tersebut ke dalam bentuk CD. Dengan berpindahnya lagu-lagu bajakan dari media Internet ke media CD, orang-orang awam yang buta teknologi pun sekarang sudah bisa memiliki lagu-lagu bajakan tanpa harus bersusah payah mempelajari pemakaian software untuk melakukan download via Internet. Hal itu justru meningkatkan pembajakan ke skala yang jauh lebih besar.

Selain itu, dengan menuntut para pembajak P2P di pengadilan, dan kebanyakan para pembajak tersebut adalah anak-anak sekolah, hal itu justru menciptakan public relations yang buruk untuk industri rekaman. Media sering melukiskan mereka sebagai Goliath-Goliath yang memburu para bayi David yang masih lugu.

Penelitian lain beberapa tahun lalu juga pernah menyimpulkan bahwa download lagu lewat P2P sebenarnya bisa membantu upaya marketing perusahaan rekaman. Para pembajak lagu lewat Internet bisa men-download lebih banyak lagu untuk dicoba. Kadang mereka menemukan penyanyi atau lagu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya (dan ternyata cocok dengan selera mereka). Akhirnya, mereka malah memutuskan membeli produk asli. Dalam hal ini, P2P bersifat sebagai media promosi gratis seperti radio atau MTV.

Para ahli tersebut tentu saja tidak menganjurkan kita untuk melakukan pembajakan atau mengurangi rasa bersalah kita (bagi yang ehm.. pernah melakukan atau membeli produk-produk bajakan). Namun mereka ingin menyampaikan ke perusahaan-perusahaan yang selama ini memandang pembajakan sebagai musuh nomor satu, bahwa sebenarnya ada blessing in disguise dalam ancaman itu.

Bila Microsoft atau industri rekaman mau berpikir secara inovatif, mereka bisa membuat ancaman tersebut sebagai peluang. Misalnya saja: Microsoft bisa saja membuat versi open source-nya sendiri dengan mengurangi feature-feature produk yang tidak terlalu penting dan kompleks; dan menarik biaya dari konsultasi, support, dan pelatihan. Perusahaan rekaman bisa dengan sengaja menyebarkan beberapa lagu secara gratis di Internet sebagai sample dan bahan promosi (dalam skala tertentu, hal ini sudah dilakukan di situs seperti MySpace). Untuk para pemusik pemula, media Internet bisa dipakai untuk menyebarkan lagu-lagu mereka secara gratis untuk membentuk kelompok fans yang cukup besar, dan setelah itu barulah mengadakan konser atau menjual memorabilia.

Arah dan arus perkembangan teknologi sulit dibendung, meski oleh perusahaan-perusahaan raksasa sekalipun. Jalan terbaik yang bisa mereka lakukan bukanlah melawannya, namun memanfaatkan arus tersebut.

Mereka (dan kita semua) juga harus belajar melihat hubungan sebab akibat tidak secara sederhana. Kadang apa yang kelihatannya sederhana dan masuk akal (pembajakan pasti merugikan perusahaan), ternyata tidak sesederhana yang tampak. Hanya dengan membuka pikiran kita untuk berpikir lebih jauh dan luas, kita bisa melihat konsekuensi lain yang bertentangan dengan akal sehat. Di sini kita butuh kemampuan berpikir secara sistem (systems thinking).

Artikel ini diambil dari ItPin.com, atas persetujuan pengelolanya. Judul artikel bisa disesuaikan, tanpa mengubah/mengurangi makna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: