Love to live, and live to love

When it can be simple, keep it simple. When it can’t, make it simple!

Mak Cioh

Posted by ardnahc pada 4 Februari, 2008

Sudah tiga hari ini Euis tak melihat Mak Cioh saat melewati rumahnya. Mak Cioh yang sudah tua itu menghuni rumah mungil si sudut gang Margacinta. Setiap pulang sekolah, Euis melihatnya sedang duduk di beranda. Euis selalu menghampirinya. Memperhatikan Mak Cioh meronce manik-manik. Biasanya mereka pun akan berbincang sebentar.
“Apa pelajaranmu hari ini, Euis?”
“Berapa nilai matematika, bahasa Sunda…?”
“Apa Bu Guru sudah mengingatkanmu, kalau sebentar lagi ada ulangan Cawu?”
Euis bertanya pada Ibu, mengapa Mak Cioh sangat memperhatikan pelajarannya. “Mungkin karena Mak Cioh itu dulu mantan guru,” kata Ibu.
“Oh, pantas! Kadang aku bosan menjawab pertanyaannya, Bu.”
“Walau bosan, tetaplah ramah dan sopan padanya. Kasihan Mak Cioh itu. Ia tinggal sendirian di rumahnya. Anak-anaknya tinggal jauh. Ada yang di Biak, di Medan, di Malaysia…”
“Mengapa Mak Cioh tak mau ikut dengan anak-anaknya, Bu?”
“Katanya, dia tak mau meninggalkan tanah leluhurnya.”
“Apa itu tanah leluhur?”
“Ya, tanah peninggalan orang tua.”
Ooo! Sekarang, Euis berdiri di luar pagar besi rumah Mak Cioh. Ia sudah rindu pada Mak Cioh. Matanya tertuju ke pintu rumah Mak Cioh. Ya, seperti kemarin dan kemarinnya lagi, pintu itu terkunci rapat. Sejak kemarin Euis ragu membuka pintu pagar besi itu. Rasanya tidak sopan.
“Eh, Neng Euis sedang apa?” tiba-tiba Mang Ja’i, Pak RT, menegurnya.
“Euh, ini Mang…” Euis agak tergagap. “Mak Cioh kemana ya? Sudah beberapa hari tak kelihatan.”
“Lo, memangnya belum tahu? Mak Cioh dibawa ke Bandung oleh anaknya yang baru kembali dari Biak. Kan Mak Cioh kena stroke…”
“Stroke?” Euis jadi teringat kepada mendiang papanya. Papa juga kena stroke dan… meninggal. Oooh…
“Tiga hari lalu, kami menemukan Mak Cioh pingsan. Kebetulan malam itu anak Mak Cioh, Bu Tuteng, baru datang. Jadi Mak Cioh langsung dibawa ke Bandung…”
Euis pulang dengan hati gundah. Mengapa Mang Ja’I tidak memberi tahu warga lain tentang Mak Cioh? Bukankah semua warga Margacinta mengenal Mak Cioh? Ada yang aneh, pikir Euis.
“Bukan begitu,” bantah ibunya. “Kata Mang Ja’i, anak Mak Cioh sudah berpesan. Agar Mang Ja’i tidak menyebarkan berita Mak Cioh…”
“Itu kan aneh!” tukas Euis. “Orang sakit, kok tak boleh diberitakan? Bukankah itu baik. Supaya banyak yang besuk Mak Cioh ke rumah sakit.”
“Ya, kalau penyakitnya tak segawat Mak Cioh,” Ibu mengingatkan.
Euis jadi terdiam. Ia tahu, pasien stroke ditempatkan di ruangan khusus. Yang boleh melihat hanya keluarga terdekat. Ya, mungkin itulah alasan Bu Tuteng, pikir Euis.
Untuk menghilangkan rindunya kepada Mak Cioh, Euis menyibukkan dirinya. Ia mengingat-ingat cara meronce manik-manik yang diajarkan Mak Cioh. Euis mencoba membuat kalung dari manik-manik yang dibelinya di pasar.
“Kalung ini kamu yang bikin?” tanya Ibu seolah ragu.
“Masih banyak lagi yang akan Is bikin, Bu!” sahutnya.
“Siapa yang mengajarimu meronce manik-manik?”
“Mak Cioh. Oh ya, belum ada kabar dari Bu Tuteng, Bu?”
“Belum. Tapi Mang Ja’i sudah janji akan mengabari kalau ada berita perkembangan Mak Cioh.”
Ya, semoga saja dokter berhasil menolong Mak Cioh, doa Euis.
“Kalau sudah banyak, Ibu mau menjualnya di kantor,” kata ibunya kembali memperhatikan kalung manik-manik hasil ronceannya.
“Masa sih teman-teman Ibu mau?”
“Kenapa tidak? Teman-teman Ibu kebanyakan punya anak sebayamu. Tentu mereka menyukai hasil ronceanmu. Asal, harganya jangan mahal-mahal….”
Euis jadi bersemangat. Diam-diam ia membuat roncean dari manik-manik. Ada kalung, gelang, dompet mungil, bahkan hiasan dinding. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada Ibu.
“Waaaah, bukan main! Laris manis, Is!” kata Ibu sepulang kantor. Ibu menyerahkan hasil penjualan kerajinan tangan Euis. “Tapi , jangan lupa belajar, ya? Sebentar lagi kan ulangan Cawu.”
“Tentu, Bu!” Euis berjanji. “Lagi pula, Is tak mau memperlihatkan nilai-nilai yang jeblok pada Mak Cioh nanti.”
“Oh ya. Sekarang Mak Cioh sudah bisa terima tamu. Tadi Bu Tuteng telepon. Katanya, Mak Cioh ingin bertemu kamu,” ujar Ibu.
“Oh, syukurlah…” Euis mengucap syukur kepada Tuhan. Setelah hampir dua bulan, akhirnya Mak Cioh bisa melewati masa kritisnya. Wajah Mak Cioh berseri-seri dan senyumnya mengembang melihat kedatangan Euis. Menurut Bu Tuteng, ibunya mengalami stroke karena terkejut mendengar kabar buruk. Cucu Mak Cioh meninggal akibat kecelakaaan di Biak. Akibat stroke itu kedua kaki Mak Cioh jadi lumpuh. Tetapi, semangatnya tampak tinggi sekali. Apalagi saat Euis memamerkan hasil roncean dan nilai-nilai ulangan Cawunya. Euis mengatakan semua itu berkat jasa Mak Cioh. Wajah perempuan tua itu semakin berseri. Ia merasa amat dihargai oleh Euis yang sebaya dengan mendiang cucunya.

http://profkang.multiply.com/music/item/1/bobo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: